Menjadi Millennial Mapan, Apa Saja Persiapannya?

By December 7, 2017Perencanaan Keuangan, Investasi
menjadi millenial mapan

Millennial, sebutan yang kian tak asing akhir-akhir ini. Sebenarnya siapa yang dimaksud dengan generasi pertengahan ini? Ya, generasi milenial yang dimaksud adalah mereka yang lahir antara tahun 1981-1994. Generasi millennial juga memiliki sebutan lain, yakni Generasi Y.

Artinya, generasi millennial adalah mereka yang berusia 22 hingga 35 tahun. Sebagian dari generasi millennial saat ini sudah memimpin banyak karyawan dan sebagian lagi sudah menduduki posisi-posisi srategis perekonomian. Diproyeksikan pada tahun 2020 nanti sebanyak 55% dari populasi kaum bekerja di ASEAN akan berusia 20-39 tahun atau usia millennial

Baca juga[Kisah Mahar Hamish Daud] Kupinang Kau dengan Setengah Kilo Emas!

Kelebihan dan Kelemahan Generasi Millenial

Meskipun digadang-gadang sebagai generasi produktif yang menguasai teknologi, generasi millennial tidak lepas dari kekurangan, di samping segala kelebihan yang mereka miliki.

Kelebihan #1: inovatif.

Tentu saja, mungkin demikian yang ada dalam pikiranmu. Penguasaan akan teknologi yang mumpuni jelas membuat generasi millennial setingkat lebih unggul dalam menciptaan produk baru. Ini seperti hasil persilangan sesuatu yang tradisional dan sesuatu yang modern. Contohnya saja dalam melakukan transaksi. Budaya tawar menawar di pasar tradisional akan ditubrukkan dengan budaya berbelanja secara daring (online). Apa yang terjadi? Budaya tawar menawar ketika belanja di internet.

Kelebihan #2: permisif.

Sikap lebih terbuka dalam menerima masukan dan mengolahnya sebagai riset sehingga menghasilkan sesuatu yang baru menjadikan generasi millennial lebih memilih bekerja dengan gaya yang sedikit berbeda dari gaya pekerja generasi sebelumnya maupun generasi berikutnya.Bekerja pada perusahan atau pengusaha yang menetapkan peraturan kerja tidak terlalu mengikat jam kerja adalah pilihan mereka generasi millennial.

Kelebihan #3:  multitasking.

Dikarenakan kebiasaan dalam keseharian dan kebutuhan, generasi millennial adalah generasi yang dituntut untuk  menguasai beberapa keahlian sekaligus dalam sebuah pekerjaan. Hal ini sebenarnya bukan masalah besar bagi generasi millennial, mengingat hal tersebut tidak jauh berbeda dari apa yang mereka pelajari selama di pendidikan dan dalam pergaulan sehari-hari.

Sementara itu, apa saja kelemahan dari generasi millennial?

kelemahan dan kekurangan millenial labilKelemahan #1: labil.

Inilah kelemahan paling akut yang diderita generasi millennial. Mereka cenderung memiliki sifat yang lebih labil dibanding generasi sebelumnya. Di samping sifat keras kepala, tentunya.

Kelemahan #2: malas punya anak.

Kurang tertariknya generasi millennial untuk punya anak diakibatkan gaya hidup mereka yang belum dewasa, mementingkan diri sendiri, terobsesi dengan teknologi canggih, dan merasa sebagai generasi dengan hak istimewa. Mengejar karier adalah hal yang lebih krusial dibandingkan melahirkan, menurut mereka.

Kelemahan #3: sulit dipercaya.

Percaya atau tidak, pernyataan bahwa generasi millennial tidak dapat dipercaya dikeluarkan langsung oleh organisasi kemanan Amerika, CIA. Mantan Direktur CIA mengatakan hal ini dan diamini beberapa organisasi lainnya bahwa generasi millennial adalah generasi yang khusus. Mereka tahu jauh lebih banyak dan lebih baik tentang peretasan komputer.

generasi millenial gen x baby boomer

 

Generasi X: Generasi sebelum Generasi Millennial

Generasi X adalah generasi yang lahir pasca-Perang Dunia II meledak. Dimulainya generasi ini diambil dengan menggunakan tanggal lahir perang dunia, yakni mulai dari awal 1960-an ke 1980-an. Istilah generasi x ini dipopulerkan oleh Douglas Coupland tahun 1991. Sebelum itu, telah digunakan untuk berbagai subkultur atau  setelah tahun 1950.

Serius banget kayaknya hidup sebagai generasi x, ya?

Baca juga: Bagaimana dinar & dirham menyelamatkan masa depanmu?

Generasi Z: Generasi setelah Generasi Millennial

Siapa sih Generasi Z ini? Sederhananya, Generasi Z adalah mereka yang lahir pada 1995. Artinya kini mereka sudah beranjak dewasa, sudah ikut pemilu, mencari atau sudah punya pekerjaan, dan hal-hal lain yang bisa memengaruhi ekonomi, politik, dan kehidupan sosial dunia kini.

Berdasarkan sensus penduduk BPS pada tahun 2010, populasi Generasi Z di Indonesia mencapai 28,8 persen. Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa, porsi Generasi Z di dunia mencapai 34,05 persen, dan diprediksi menyentuh 40 persen pada 2050.

Sejauh ini, Generasi Z dikenal sebagai karakter yang lebih tidak fokus daripada millennial, tapi lebih serbabisa. Selain itu mereka lebih individual, lebih global, berpikiran lebih terbuka, lebih cepat terjun ke dunia kerja, lebih wirausahawan, dan tentu saja lebih ramah teknologi.

Menurut survei Nielsen, Generasi Z berpengaruh dalam perputaran ekonomi dunia sebagai 62 persen konsumen pembeli produk elektronik. Hal ini dipengaruhi oleh kehidupan mereka yang sudah terkoneksi dengan internet.

Generasi Z sering disebut sebagai penduduk asli dunia digital.

Millennial Bisa Mapan? Caranya?

Millennial sendiri dianggap spesial karena generasi ini sangat berbeda dengan generasi sebelumnya, apalagi dalam hal yang berkaitan dengan teknologi. Akan tetapi, generasi ini banyak dibicarakan sebagai generasi yang sulit untuk mapan dan hidup secara layak dikarenakan oleh gaya hidup. Kok bisa?

Di Indonesia sendiri dari jumlah 255 juta penduduk yang telah tercatat, terdapat 81 juta merupakan generasi millennial atau berusia 17 sampai 37 tahun.

Sebuah survei yang dilakukan menyebutkan bahwa generasi millenial kesulitan untuk mampu membeli rumah. Iya, termasuk sulit dalam mampu mencicilnya. Bayangkan, harga rumah di Jakarta didominasi harga Rp 480 juta ke atas. Disebutkan hanya masyarakat yang berpenghasilan Rp 12 juta ke atas per bulannya yang mampu membeli rumah dengan harga tersebut.

Mereka terhalang oleh penghasilan yang hanya pada kisaran Rp 4 juta ke bawah.

Pendapatan rata-rata generasi millennial saat ini adalah Rp 6.072.111 per bulan. Sedangkan untuk dapat mencicil rumah di Jakarta dengan harga termurah Rp 300 juta, dibutuhkan pendapatan minimal Rp 7,5 juta per bulan.

Generasi millennial yang mampu membeli rumah di Jakarta sekitar 16,8%. Jumlah ini diprediksi akan terus menurun menjadi 2,7% hingga 2020.

Bahkan jika harga properti naik rata-rata 20% per tahun, kenaikan gaji rata-rata 10% per tahun dan asumsi KPR 15 tahun, kaum millennial tidak akan mampu membeli rumah di Jakarta. Hal ini karena cicilan KPR di atas kemampuan mencicil.

Peningkatan harga rumah dalam lima tahun mendatang diprediksi sekitar 150 persen, sementara kenaikan pendapatan hanya 60 persen dalam periode yang sama. Dengan estimasi kenaikan minimal 20 persen per tahun, harga rumah yang saat ini dipatok Rp 300 juta akan menjadi Rp 750 juta.

Bandingkan dengan kisaran penghasilan generasi millennial pada tahun 2021 mendatang yang hanya ada di angka Rp 12 juta. Dengan penghasilan Rp 12 juta tersebut, generasi milenial tidak lagi mampu membeli rumah yang sebenarnya terjangkau oleh mereka saat ini.

Kemampuan mencicil haruslah 30% dari total penghasilan.

Bagaimana nasib generasi millennial ini kemudian? Apa yang harus dilakukannya untuk setidaknya bisa menghabiskan gaji pada hal-hal yang lebih berfaedah? Ingat, gaji yang diterima di samping terdapat kewajiban untuk dikeluarkan sebagai amal, ada bagian yang harus dijadikan tabungan agar hidup aman. Dan tabungan bukan melulu bentuknya tabungan bank. Percaya deh nabung di bank tidak akan kaya. Ubah ke emas. Iya, mulai berpikir untuk membeli emas. Di mana? Tentu saja kamu bisa beli emas di Tamasia 😉

Baca juga:


 

Dapatkan artikel terbaru mengenai tips perencanaan keuangan, gaya hidup, & investasi dengan Like Facebook official Tamasia disini. Apa itu Tamasia? Tamasia adalah aplikasi beli emas secara syariah tanpa DP, dapatkan cashback tiap digunakan sendiri / kamu bisa jadi reseller untuk mendapatkan bagi hasil tiap bulan. Download gratis di Google play & App store

Facebook Comments

Leave a Reply